BANDA ACEH, BBG NEWS–UBBG bekerja sama dengan Sanggar Keumala Intan mengadakan kegiatan regenerasi “Tari Laweut Aceh” Kegiatan berlangsung di Aula SMPN 1 Banda Aceh, Minggu (16/11/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kemdiktisaintek 2025.
Tari ini menjadi salah satu tarian tradisional khas Aceh, sebagai upaya pelestarian seni budaya daerah. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas sanggar, siswa, pelajar, hingga mahasiswa.
Tari Laweut adalah salah satu tari yang berasal dari daerah Pidie yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Aceh terutama daerah pesisir. Sebutan laweut berasal dari bahasa Arab, yaitu seulaweut atau salawat. Arti dari kata tersebut adalah sanjungan kepada junjungan umat Islam yaitu Nabi Muhammad Saw. Maka dari itu, syair-syair yang dilantunkan untuk mengiringi tarian ini lebih banyak bersalawat kepada nabi. Selain laweut masyarakat Aceh juga menyebut tarian ini dengan istilah Seudati Inong atau Akoom.
Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah siswa dan guru SMPN 1 Banda Aceh, Sanggar Getsempena, Sekolah Rakyat, Sanggar Keumala Intan, dan Himpunan Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan. Acara berlangsung lancar dan meriah, dengan kelas singkat tari yang memberikan kesempatan langsung bagi peserta untuk mempelajari gerakan Tari Laweut, serta pertunjukan tari yang dibawakan oleh Sanggar Keumala Intan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pembina Sanggar Keumala Intan Munira. Beliau menekankan pentingnya regenerasi seni tradisional bagi generasi muda.
“Melalui tarian, nilai-nilai budaya Aceh bisa dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Ini juga sarana membangun rasa bangga terhadap identitas lokal,” ujarnya.
Untuk memperkaya wawasan peserta, panitia menghadirkan dua pemateri profesional. Kedua pemateri tersebut yakni Novirela Minang Sari, S.Pd., M.Sn (materi Tari Laweut Aceh), dan Tirta Yusada, S.Kom ( materi Editing Video dan Fotografi Pertunjukan). Peserta tidak hanya belajar menari, tapi juga mendokumentasikan pertunjukan secara kreatif.
Ketua Pelaksana Riska Gebrina, S.Pd., M.Sn. yang berharap kegiatan ini menjadi wadah belajar sekaligus langkah konkret dalam pelestarian seni tradisi Aceh.
“Regenerasi Tari Laweut tidak hanya soal menghafal gerakan, tapi memahami filosofi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” jelas Riska.
Dengan kegiatan ini, PISN dan Sanggar Keumala Intan berharap Tari Laweut Aceh terus dikenal, dipelajari, dan dicintai generasi muda, sehingga menjadi bagian hidup masyarakat Aceh dan tetap lestari di tengah modernisasi.
#ubbghebat
#diktisaintekberdampak
#kampusberdampak




















