Sensasi Mengajar Sebagai Guru Muda

16 September 2019 | BBG News

PDF version

(Dimuat di Serambi Indonesia, 14 September 2019)

Muzirul Qadhi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris STKIP BBG

Ketika mendengar kata guru pasti yang terbenak dalam pikirin kita adalah seorang pengajar, baik itu mengajar di sekolah ataupun mengajar di kelas kelas Bimbel. Guru mengajarkan kita tentang kedisiplinan, tetang wawasan hidup serta mengajarkan ilmu pengetahuan yang dapat mengubah hidup kita, tetapi ada juga yang beranggapan bahwasanya menjadi guru itu tidak menarik, tidak fashion dan pekerjaan yang membosankan, padahal tanpa seorang guru kita bukanlah apa apa. Seperti kata bijak yang penulis bubuhkan di bawah ini :

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tetapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang-orang hebat.”

“Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya.” Abu Hamid Al Ghazali

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki hadjar Dewantara

Penulis merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP BBG Banda Aceh) yang kini melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK N 1 Mesjid Raya, saya dilepas pada tanggal 22 juli 2019 di halaman kampus bersamaan dengan 196 mahasiswa STKIP BBG lainnya yang di tempatkan di sekolah sekolah wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

Program PPL ini adalah tahapan untuk mempersiapkan calon guru profesional dan berkompeten agar menghasilkan generasi atau siswa yang bermutu serta mempunyai wawasan luas dengan berbagai metode yang diterapkan oleh si guru muda tersebut.

Dalam program ini penulis ditempatkan selama empat bulan sebagai guru muda yang tentunya tidak terlepas dari kontrol Pamong (Guru Senior) selain mengajar nantinya kami sebagai mahasiswa PPL juga dituntut untuk melaksanakan pengabdian masyarakat di masa empat bulan yang diberikan, biasanya di saat menjelang habis masa PPL atau bulan terakhir, kegiatan tersebut terdapat dua pilihan, bisa dilakukan di sekolah dan juga bisa dilakukan di Gampong tempat kita mengajar, ini merupakan salah satu syarat sebagai mahasiswa akhir untuk mendapatkan gelar sarjana.

Setiap paginya saya harus bangun cepat, berkemas dan bergegas ke sekolah sebelum pukul 8 pagi, saya merasakan seolah olah saya telah menjadi guru sesungguhnya dan saya menikmati sekali proses itu. Memang ada kendala jarak kos dengan sekolah agak begitu jauh mungkin sekitar 7 Km, karena saya tinggal di Banda Aceh ya mau tidak mau saya harus bergerak lebih awal, namun itu tidak mematahkan semangat saya untuk selalu bertemu dengan anak anak murid saya yang telah merasakan adanya sebuah kerinduan layak nya orang tua dan anak.

Ada sensasi yang begitu mengagumkan sebenarnya menjadi guru muda selain memiliki stamina yang lebih kuat, tetapi ada ketukan dari hati bahwasanya menjadi guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia, mendidik anak mulai dari akhlak nya hingga memastikan wawasan pikiran nya betul betul berkompeten untuk bersaing secara global. Banyak kesan yang bisa saya dapatkan selama hampir 2 bulan ini menjadi pengajar muda, mulai belajar menjadi seorang bapak, belajar saling menyapa antar sesama guru, belajar menghadapi siswa yang notabane adalah anak milenial, tentunya tingkah lakunya juga milenial, mungkin di awal awal ada kecanggungan mungkin kurang percaya diri atau belum mampu beradaptasi namun itu hanya sebentar karena guru guru lainya ibarat telah menjadi keluarga yang selalu memberikan semangat dan pelajaran bagaimana cara mengajar dan menghadapi siswa.

Di SMK N 1 Mesjid Raya sendiri terdapat empat guru muda lainnya yang sama sama berasal dari kampus STKIP BBG Banda Aceh. Kurang lebih sudah hampir 50 hari kami berada di sekolah ini bergelut sebagai tenaga pengajar muda, banyak hal yang tidak kita duga dan banyak hal yang harus kita pelajari serta dipahami, untuk menjadi seorang guru yang dapat di ikuti oleh siswa nya.

Apalagi saya berada di sekolah kejuruan, ya sudah barang tentu berbeda dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang sifatnya lebih ke umum, siswa kejuruan itu cenderung lebih menyukai mata pelajaran bidang kejuruan nya masing masing dari pada mata pelajaran umum dan lebih menginginkan praktek turun lapangan dari pada teori yang berlebihan. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi saya selaku guru muda atau bisa dikatakan pemula, hal di atas menjadi fakta dilapangan bahwasanya menjadi guru itu tidak hanya mengajar tapi juga belajar, belajar memahami karakter dan komposisi pendidikan siswa.

Banyak hal menarik memang dirasakan sebagai seorang guru non vokasi agar siswa betah di dalam ruang dan mau mendengarkan gurunya, mulai dari menyiapkan metode, cara kita mengajar, bagaimana cara kita menguasai kelas, hingga penampilan rapi dan menarik sudah barang tentu menjadi kewajiban menjadi seorang guru bak seperti publik figur yang tampil menawan di hadapan fans nya.

Tak pula jarang saya menemukan siswa yang bandel, pokoknya berbagai macam tipe, mulai dari siswa yang susah di atur, siswa yang malas nulis, siswa yang caper, siswa yang kerjaannya keluar masuk kelas bahkan ada siswa yang suka gangguin guru nya, untungnya saja saya guru laki laki kalau perempuan mungkin bisa di godain oleh siswa, hal itu memang sudah lumrah kita temukan di lapangan, apalagi di jaman modern ini kita di kuasai yang namanya teknologi, hampir semua orang memiliki smart phone tak terkecuali siswa, bahkan ada siswa ketika guru sedang mengajar tanpa ragu ia bermain PUBG atau Game Online lainya.

Namun sebaliknya ketika siswa belajar tentang mata pelajaran bidang kejuruan nya mereka tekun dan begitu serius, hal itu bisa kita buktikan dengan berbagai torehan prestasi yang di dapat oleh SMK N 1 Mesjid Raya, Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Sekolah Nomor 956/BAN-SM/Aceh/SK/2018 sekolah SMK N 1 Mesjid Raya dinyatakan menjadi sekolah unggul dengan akreditasi A dan juga mendapatkan mandat sebagai sekolah rujukan dari dinas Pendidikan Aceh. Namun meskipun demikian hal hal buruk seperti anak bermain Game Online dikelas, kemudian tingkah laku yang tak baik, sebagai guru muda harus menegur bahwasanya norma tesebut tidak terpuji, ada cara untuk menjalin keharmonisan dengan siswa, mulai dari cara komunikasi yang baik, juga kerap sekali saya melakukan interaksi dari hati ke hati ke siswa tentang problem nya, supaya saya selaku guru bisa memahami apa yang sedang di butuhkan siswa.

Sebenarnya sekolah yang didirikan pada awal tahun tahun 1992 ini awalnya bernama SMIK dengan empat program keahlian/jurusan seni rupa dan kerajinan di antaranya ialah jurusan Kriya Kayu, Kriya Logam, Kriya Tekstil dan Kriya Keramik. Kemudian pasca terjadinya bencana tsunami Aceh tahun 2004, sekolah ini mengalami penurunan siswa yang cukup drastis hingga akhir nya jurusan kriya keramik pun ditutup. Lalu pada tahun 2007 di buka program keahlian baru yaitu Multimedia, melihat meningkatnya kembali minat calon siswa untuk sekolah di SMK N 1 Mesjid Raya pihak sekolah kembali membuka program baru yaitu Teknik Kendaraan Ringan (TKR) di tahun 2013. Sehingga saat ini SMK N 1 Mesjid Raya memiliki 3 Program Keahlian dengan 5 Paket Keahlian diantaranya Desain Produk Kriya (DPK) ialah DPK Kayu, DPK Kriya dan DPK Tekstil kemudian 2 lagi ialah program keahlian teknologi informasi dengan paket multimedia dan program keahlian Teknik Otomatif dengan paket keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR) kini juga telah di buka paket Keahlian Tata Busana Butik.

Dari berbagai macam jurusan program keahlian, kriya tekstil mendominasi dalam hal prestasi baik tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. Bahkan tahun lalu SMK N 1 Mesjid Raya sempat membawa prestasi membanggakan yaitu juara II terbaik Tekstil dan Kriya Tekstil Lomba Kompetensi Siswa Tingkat Nasional di Surakarta. Untuk tingkat kabupaten dalam even O2SN ataupun LKS SMK N 1 Mesjid Raya salah satu sekolah langganan yang paling sering membawa pulang piala serta mendali dan banyak lagi prestasi lain yang telah di capai sekolah yang luas nya 4,5 hektar itu.

Itulah sepenggal cerita dan sensasi menjadi seorang guru muda di SMK N 1 Mesjid Raya, jangan pernah takut atau sepele dengan menjadi seorang guru, karena guru adalah sumber ilmu.

Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2019/09/14/sensasi-mengajar-sebagai-guru-muda

Bangun Negeri, Bijakkan Bangsa