Rindu Ibu

8 Juli 2017 | BBG News

PDF version

Cerpen: Selasa Fitri

 

 

Aku terbangun dari tidur untuk yang sekian kali setelah bermimpi tentang ibu. Dan ibu

adalah mimpi buruk. Wajahku yang kering penuh dengan keringat. Kuusap dahi dan wajah

dengan   kedua   telapak   tanganku   yang   besar.   Desiran   angin   malam   yang   dingin   belum

mampu menghentikan keringan bercucuran yang membuat  wajah putihku lembab. Mengapa

ibu selalu menjelma dalam mimpi?

 

Hawa sejuk menyelusup kamar melalui jendela terbuka, jendela papan batang kelapa.

Udara dingin memberi sedikit ketenangan  pada batinku yang gelisah, ya cuma  sentuhan

angin yang mampu memberi sedikit penawar luka hati yang diberikan ibu melalui mimpi.

Saat umurku 7 tahun ibu meninggal dunia. Sementara ayah menikah lagi dengan wanita

lain, aku tak pernah tahu penyebab ibu meninggal, ayah pernah bercerita ketika aku kecil ibu

sakit-sakitan dan segala usaha ayah untuk  mengobati ibu,akan tetapi sia-sia. Padahal ibu

adalah perempuan yang baik, ayah pun sangat mencintai ibu.

 

Setelah ibu meninggal aku melarang ayah untuk menikah lagi. Bahkan karena membantah ayah

aku pernah kabur dari rumah demi menghalangi ayah untuk tidak menikah lagi. Aku heran

kenapa ayahku lebih memilih janda tiga anak itu,ketimbang mengikut keinginanku.

Setelah ayah menikah aku tidak tinggal bersama mereka tapi aku diasuh oleh saudara

angkat ayah dan disana aku diangkat menjadi anak. Sebenarnya aku sangat sedih ketika

melihat teman-temanku mereka tinggal dengan ayah ibu mereka, sementara aku bersama

orang lain yang hanya menjadikan anak angkat. Kupikir semua ini harus ku terima

dengan dada yang lapang.

 

Dulu saat ayah menikah dengan ibu tiri. Aku sempat tinggal bersama mereka. Tetapi aku

selalu dibeda-bedakan dengan saudara tiriku. Aku selalu mencoba untuk tidak menyakiti,

membata ibu namun apa yang kuterima perlakuan ibu tiriku sangat menyakitkan dan terus

saja   membeda-bedakanku   apa   lagi   ketika   ayah   tidak   dirumah   dengan   senang   hati   ia

memarahi, tampa ku tahu apa sebenarnya kesalahan yg ku buat.

 

Gonggongan anjing liar tak jauh dari sini. Membuat ku tersentak dari lamunan. Aku

bangkit dari tempat tidur beralas kasur palembang tangan kanan ku meraih bantal yang ku

lempar ke selah jendela. Dasar anjing sialan! Kalian Cuma bisa menggonggong di malam

hari apakah lidah kalian kelu waktu siang? Teriakku…….

 

Ibu tidak mungkin  marah   padaku.   Dia kerap hadir dalam mimpi-mimpiku dan sangat

menyayangiku. Aku   memang   sudah   tak   ingat   lagi   kapan   terahir   aku   ziarah   ke makam

ibu. Memang sering aku mengajak ayah tetapi jawaban ayah selalu nanti, sampai

saat ini aku tak pernah tahu apa alasan ayah melarangku…

 

Aku pun terdiam.

 

Apakah   ibu  sedih  karena   aku   tak   pernah     jiarah   kemakamnya.?……tidak  ibu   tak   tahu

bertapa menderitanya aku saat ibu pergi….

 

Suara tokek menghentikan teriakanku, aku menoleh kearah suara itu. Namun ,tak ada

apapun disana,aku melihat kesisi lain dinding yang ada hanya ada cicak yang  merayap

malas.   suara   tokek   itu   mengejek   ku,,,,tapi   dia   tidak   sama   sekali   muncul….   dan   lelah

kupejamkan mata ini, tapi sama sekali tak bisa…kepala ku sakit terasa jantungku berhenti

berdetak aku pun amberukk ke atas lantai.

 

Mataku melihat sosok seorang perempuan yg berjalan mendekatiku, terdiam sejenak. Dia

adalah ibuku,,,ku pegang tangannya,ku peluk dia,,,tapi ia menghindar dari pelukan ku,

“kenapa aku tidak boleh memeluk ibu?,,tanyakku tak rela…

“kamu tidak pantas memeluk ibu!…apa salaku ibu,,jawab ku. Rasanya air mata tak bisa

ku budung lagi ketika ibu bicara.

 

“kau tak perna mengunjungi ibu dan telah melupakan ibu.!rasa sedihi terpancar dari raut

Wajahnya. Aku pun menangis didepan ibu dan berkata” aku sangat menyayangimu dan selalu di

dalam lubuk hatiku,,seandainya ibu tahu betapa menderitanya aku setelah ibu pergi. Setiap

saat air mata ini bercucuran merindukan kasih sayang seorang ibu..tapi apa yg bisa ku

lakukan   hanya   bisa   sabar   dan   melapangkan   dada..walau   terkadang  penderitraaan   silih

berganti seperti hari-hari berlalu.

 

Ibu sabar aku janji ketika aku telah sukses aku akan datang mejenggukmu ibu…mencoba

menyakinkan ibu.banyanggan perempuan itu pun hilang seketika…seiring suara tokek yang

menyaut. Terdengar   ditelingaku   suara   kokokkan   ayam   yang   sangat   keras,,,,,teryatah   hari   sudah

pagi….rupanya aku   mimpi   didatangi   ibu,   badan   ini   tergeletak diatas tikar…dan  saat   itu

pulah aku sadar bukan hanyak aku yang merindukan ibu…tetapi ibu juga merindukan diriku.

Dan sampai saat ini ayah belum juga bemberi alasan kenapa aku dilarang untuk ziarah.

 

 

Selasa Fitri, Mahasiswa PBSID STKIP BBG

 

 

Bangun Negeri, Bijakkan Bangsa