Pengaruh Pendidikan Islam Terhadap Karakter Anak

14 Februari 2018 | BBG News

PDF version

Oleh: Zikrur Rahmat, M.Pd

Dosen Penjaskesrek STKIP BBG

Pendidikan merupakan pondasi dasar bagi kehidupan manusia.  Setiap anak sejak usia dini, belajar untuk mengembangkan dan menggunakan kekuatan mental, moral, dan fisik mereka. Semua itu mereka peroleh melalui pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi anak karena dapat mendidik anak mencapai impiannya. Salah satu pendidikan yang dipupuk sejak dini adalah pendidikan agama, terutama pendidikan Islam bagi kita sebagai orang muslim.

Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan karakter manusia yang bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam moral atau akhlak tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati dalam berkayakinan kepada Allah swt. Akhlak adalah pantulan iman yang berupa perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.

Dalam menjalankan roda kehidupan sehari-hari, tingkat pendidikan membantu orang mendapatkan rasa hormat dan pengakuan ini adalah bagian tak terpisahkan dan kehidupan baik secara pribadi maupun sosial. Pendidikan agama islam sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya, pendidikan agama islam bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan siswa terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan misi Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak sehingga mencapai akhlakul karimah. Tujuan dari pendidikan islam adalah pembentukan akhlak yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi.

Dalam kehidupan manusia tentu telah melalui beberapa tahap perkembangan yaitu mulai dari janin, bayi, kanak-kanak, dewasa dan masa remaja. Remaja adalah bagian umur yang rentan mengalami masalah dalam hidup dimana remaja masih memiliki kejiwaan yang labil dan justru kelabilan itu yang membuat si anak menjadi terganggu jiwanya. Kurangnya pendidikan agama dikarenakan salah satu faktor yang kurangnya pendidikan agama dalam keluarga. Dari orang tua yang kurang memberikan semangat mengenai pendidikan kepada anak-anak, kemudian faktor yang lain adalah adanya pergaulan-pergaulan bebas yang anak didik atau peserta didik yang tidak mampu mengendalikan sehingga faktor pendidikan mereka lepaskan atau tidak bersekolah lagi. Ini semua yang menyebabkan kurangnya pendidikan agama islam, terutama dikalangan remaja karena faktor kurangnya perhatian guru dan kurangnya perhatian orangtua pada anak-anaknya.

Keluarga yang tidak menanamkan pendidikan anak sejak kecil, sehingga mereka tidak dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam peri kehidupan bermasyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang sesuai dengan ajaran agama tidak dicontohkan oleh orang tua kepada anak sejak kecil. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dibentuk sejak lahir akan menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian anak. Apabila kepribadian dipenuhi oleh nilai agama, akhlak yang baik maka akan terhindarlah anak dari kelakukan-kelakuan yang tidak baik.

Peran para orang tua dan anak-anak pada umumnya memiliki hubungan yang sangat erat baik secara fisik maupun secara emosional. Dari sinilah kita biasa mengambil sebuah keputusan bahwa orang tualah yang sangat berperan penting dalam memperagamakan seorang anak. Jika seorang anak tidak ditanamkan nilai agama, akhlak sejak kecil maka seorang anak inilah adalah salah satu generasi yang akan menghancurkan bagi dirinya sendiri, bangsa, agama dan dunia.

Berdasarkan hasil fakta kejadian yang terjadi baik di Indonesia dan dibelahan bumi lainya, moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami degradasi. Dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian, pergaulan dan lain sebagainya. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.

Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral remaja ialah perkembangan era globalisasi yang tidak seimbang. Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini. Sayangnya kita seakan tidak sadar, namun malah mengikutinya. Kita terus menuntut kemajuan di era global ini tanpa memandang lagi aspek kesantunan budaya negeri ini. Ketidak seimbangan itulah yang pada akhirnya membuat moral semakin jatuh dan rusak.

Andai saja pemerintah tak sibuk (terus) mengurus terhadap masalah korupsi yang terjadi akhir-akhir ini. Harapannya mereka para petinggi Negara harus memiliki sedikit waktu untuk mengurus masalah akhlak, anak-anak bangsa menurut amatan selama ini anak bangsanya yang semakin hari semakin menjadi-jadi, pemukulan, penganiayaan guru terjadi dimana-dimana, baik yang dilakukan oleh orang tua murid, bahkan yang dilakukan langsung oleh tangan si murid. Hal ini menunkkan simbol kesantunan anak bangsa sudah mulai terkikis bahkan sudah degradasi sekali yang terjadi pada generasi muda, yaitu pada usia remaja. Kalau sudah seperti ini lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bila dahulu kehidupan remaja cenderung dikendalikan oleh nilai-nilai moral yang mengungkungnya, baik dari masyarakat maupun keluarga, maka zaman sekarang justru mengabaikannya. Mendengar kata remaja, ada banyak hal negative yang akan timbul dari pikiran kita. Sebut saja tentang kenakanalan remaja saat ini. Seperti tindakan criminal berupa pencurian, perampokan, mengedarkan dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Belum lagi gadis-gadis muda yang hamil di luar nikah, hingga seabrek permasalahan lain yang tidak kunjung selesai. Dan hampir semuanya masalah moral.

Menurut Hasan Basri remaja adalah mereka yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggung jawab. Masa remaja ditandai dengan pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah terbayangkan dan dialami, dalam bidang fisik-biologis maupun psikis atau kejiwaan. Menstruasi pertama bagi kaum wanita dan keluarnya sperma dalam mimpi basah pertama kaum pria adalah merupakan tonggak pertama dalam kehidupan manusia yang menunjukkan bahwa mereka sedang dalam perjalanan usia remaja yang indah dan penuh dengan tanda tanya.

Dalam pertumbuhan fisik-biologisnya, kemasakan hormon dalam tubuh remaja sangat mempengaruhi kemasakan seksual dengan timbulnya dorongan-dorongan seksual yang semakin hidup dan bergelora. Saat itu, minat terhadap jenis kelamin lain mulai berkembang dalam arti khusus, padahal di saat yang bersamaan pengenalan terhadap diri sendiri masih sangat kurang. Selain itu, perkembangan kejiwaan yang tidak mendapat penjelasan sebagaimana mestinya juga akan menimbulkan pertanyaan yang mengganggu dan sangat mengusik kehidupan kaum remaja.

Pendidikan agama dan bimbingan dimulai sejak usia dini tujuannya dalah agar membuat anak memiliki kepribadian yang islami, dengan karakter dan moral yang baik, prinsip-prinsip islami yang kuat, memiliki sarana untuk menghadapi tuntutan hidup dengan cara yang matang dan bertanggung jawab.

Dengan diberikannya pendidikan agama pada anak sejak usia dini akan ,menjadikan seorang anak menjadi lebih baik, beragama, bermoral dan bernilai pekerti yang baik. Menyesallah orang tua yang tidak menanamkan atau memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya.

Jangan heran mengapa banyak krimanallitas yang terjadi dinegara ini seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian ini semua dikarenakan tidak adanya nilai –nilai moral yang tertanam dalam anak-anak, remaja, dewasa. Maka dari itu pentingnya pendidikan agama islam untuk masyrakat kita. Dari kenyataan yang ada kita perlu mempertanyakan peran dari tokoh-tokoh agama, pendikan dan peran pemerintah. Apakah mereka telah melupakan pentingnya menanamkan nilai-nilai moral pada masyrakat.

Melihat kenyataan sekarang agama di zaman ini hanyalah menjadi bahan pendidikan yang tidak penting dalam perkembangan bangsa ini, mereka tidak sadari bahwa agama mampu dalam memperkembangkan bangsa ini menjadi bangsa yang maju. Mengapa agama mampu mengembangkan bangsa ini? Karena dengan adanya agama, masyrakat kita mempunyai nilai-nilai moral yang biasa menghasilkan dampak positif , memberikan rasa kenyamanan dalam masyarakat kita yang selama ini dihantui oleh hal-hal yang bersifat kriminalitas dan pastinya mengurangi angka kriminalitas dalam bangsa kita.

Biasa kita katakan bahwa dalam pandangan pemerintah pendidikan yang pada umumnya seperti SD, SMP, SMA itu lebih di utamakan dari pada pendidikan yang lebih mengarah dalam pendidikan agama seperti pesantren, pondok dan lain sebagainya. Pendidikan agama merupakan dasar pembentukan pribadi anak. Tetapi masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan khususnya dalam pendidikan agama islam. Oleh karena itu, kita jangan hanya mengajarkan pendidikan umum tetapi pendidikan agama juga karena pendidikan agama dapat menyelamatkan manusia dunia dan akhirat.

Bangun Negeri, Bijakkan Bangsa