BANDA ACEH, BBG NEWS–Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan akademis dan kebudayaan para mahasiswanya. Terbaru, Muhammad Khadafi, mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) UBBG, turut aktif berpartisipasi dalam diskusi ilmiah berkelas internasional yang diselenggarakan oleh International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) beprasama Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) Universitas Syiah Kuala.
Kegiatan bertajuk Public Discussion Series (PDS #121) tersebut mengangkat tema “Healing Children’s Worlds: Art, Safe Spaces, and Sustainable Rights Post-Disaster”. Forum ilmiah ini dikemas dalam bentuk “Artist Talk” yang menghadirkan tiga narasumber berpengalaman di bidang seni, kemanusiaan, dan pemulihan pascabencana, yaitu Ribut Cahyono, Kaminah, dan Karina Adistiana.
Acara yang berlangsung pada Jumat, 3 September 2026, pukul 15.00 WIB ini bertempat di Anthony Reid Seminar Room, Kantor ICAIOS, Banda Aceh. Dalam forum tersebut, para narasumber membedah bagaimana pendekatan seni dan penyediaan ruang aman dapat menjadi sarana pemulihan psikologis (healing) yang efektif bagi anak-anak di wilayah pascabencana, sekaligus memperjuangkan hak-hak berkelanjutan bagi mereka.
Kehadiran Muhammad Khadafi dalam ajang ini menjadi bukti nyata antusiasme mahasiswa PBSA UBBG dalam menyerap ilmu dari forum-forum riset multi-disiplin. Menurut Khadafi, keterlibatannya dalam diskusi PDS #121 memberikan wawasan baru yang sangat berharga, terutama mengenai kaitan erat antara seni, kebudayaan, bahasa, dan trauma healing pada masyarakat pascabencana.
“Kegiatan ini sangat membuka pikiran saya. Sebagai mahasiswa bahasa dan sastra Aceh, saya melihat bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan media yang sangat kuat untuk pemulihan jiwa anak-anak serta menjaga keberlanjutan hak-hak mereka. Diskusi ini memberikan perspektif global yang bisa saya terapkan dalam konteks kajian budaya lokal Aceh,” ujar Khadafi seusai menghadiri acara.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) UBBG, Regina Rahmi, M.Pd., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam atas partisipasi aktif mahasiswanya dalam forum berskala regional dan internasional tersebut. Beliau mengungkapkan rasa syukur karena Prodi PBSA UBBG dapat terus berkolaborasi dan bermitra dengan lembaga-lembaga yang konsisten dalam dunia riset dan ilmu pengetahuan seperti ICAIOS.
“Kami sangat bersyukur dan menyambut baik kesempatan di mana mahasiswa kami dapat hadir dan menyerap ilmu langsung di forum ICAIOS. Kemitraan dengan lembaga riset independen yang konsisten seperti ICAIOS sangat penting untuk menumbuhkan minat belajar mahasiswa UBBG, sekaligus membuka wawasan mereka secara global,” ungkap Regina Rahmi, M.Pd.
Lebih lanjut, Regina Rahmi menekankan bahwa ICAIOS dan UBBG telah lama menjalin kerja sama kemitraan yang strategis. Hubungan baik yang telah terbangun bertahun-tahun ini telah melahirkan berbagai kegiatan akademis, diskusi publik, serta kolaborasi riset yang memberikan dampak positif besar bagi perkembangan iklim akademis di lingkungan kampus UBBG.
“Kerja sama antara UBBG dan ICAIOS ini bukanlah hal yang baru, melainkan hubungan kemitraan berkelanjutan yang terus kita rawat. Melalui sinergi ini, kami ingin memastikan bahwa mahasiswa PBSA tidak hanya jago dalam lingkup akademis internal, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, daya kritis, dan wawasan global yang luas dalam memandang isu-isu kemanusiaan dan kebudayaan,” tambahnya.
Kegiatan PDS #121 ini ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan para pembicara. Melalui keterlibatan aktif mahasiswa seperti Muhammad Khadafi, Prodi PBSA UBBG berharap tradisi akademik yang kritis, inklusif, dan berwawasan global dapat terus tumbuh dan menginspirasi mahasiswa lainnya di lingkungan Universitas Bina Bangsa Getsempena.
#ubbgmaju
#diktisaintekberdampak
#kampusberdampak



















