Keunikan Tradisi Seumuleung Raja Daya di Lamno, Aceh Jaya

20 Juni 2024 | BBG News

Dimuat di Serambi Indonesia edisi Kamis, 20 Juni 2024

Pipi Murfiza, alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Jaya

Rakan mandum ban sigom donya (Teman semua dari berbagai penjuru dunia).

Kali ini saya yang tinggal di Aceh Jaya ingin menceritakan sebuah tradisi di daerah kami. Siapa sih yang tidak kenal dengan Aceh Jaya, tempat perempuan dan pria Aceh bermata biru berasal?

Kata Aceh Jaya berasal dari (Aceh: Jawoe: اچيه جاي) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini dibentuk tahun 2002 sebagai hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Aceh Barat.

Kabupaten baru ini mempunyai luas wilayah 381.400 ha ,terletak pada 04° 22 sampai 05° 16 garis Lintang Utara dan 95° 10 sampai 96° 03 Bujur Timur.

Aceh Jaya memiliki pantai yang begitu luas dan indah. Laut biru, gunung tinggi, aneka ragam ikan, dan objek wisata terdapat di kabupaten yang terletak antara Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Barat ini.

Kali ini saya ingin mereportasekan tradisi seumuleung raja, yang setiap tahun dilaksanakan di Aceh Jaya. Tak ada kabupaten dan kota lain di Aceh yang memiliki tradisi seperti ini. Tradisi yang saya maksud adalah tradisi kerajaan berupa ‘seumuleung’.

Kerajaan yang saya maksud di sini adalah Kerajaan Meureuhom Daya yang didirikan tahun 1480 Masehi dan mempersatukan Kerajaan Keuluang, Lamno, Kuala Unga, dan Kuala Daya menjadi Kerajaan Daya.

Kerajaan ini menetapkan ibu kotanya di Lamkuta dan Kuta yang terletak di Gampong Gle Jong (kini masuk dalam Mukim Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh).

Adapun tradisi seumuleung raja dilaksanakan setiap Idul Adha. Tepatnya pada hari ketiga Lebaran. Dengan demikian, seumuleung kali ini berlangsung pada hari Rabu, 19 Juni 2024. Kegiatan ini dihadiri pula oleh Penjabat Bupati Aceh Jaya, Bapak Dr A Murtala MSi.

Seumuleung yang maknanya “menyulang” atau “menyuapi” merupakan upacara khusus yang dulu dilakukan Sultan Inayat Syah untuk menobatkan anaknya sebagai Sultan Kerajaan Daya pada tahun 1480 M.

Kini, tradisi ini terus dilakoni di Nanggroe Meureuhom Daya yang secara teritorial sudah masuk wilayah NKRI.

Kegiatan ini merupakan tradisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat sekitar, karena Seumuleung Raja Meureuhom Daya ini menarik perhatian warga sekitar juga pendatang yang berasal dari berbagai daerah.

Hadir pula tokoh-tokoh hebat tentunya, baik dari wilayah Aceh Jaya, Barat Selatan Aceh (Barsela), maupun dari daerah lainnya. Undangan utamanya adalah para keturunan raja dari seluruh Aceh juga pemerintah daerah.

Pada tahun-tahun sebelumnya tradisi ini dilaksanakan di sebuah gedung permanen yang ditata bak istana raja masa lalu, dicat warna putih, lengkap dengan lima kubah ukuran berbeda-beda.

Kegiatan kali ini dipusatkan di Astaka Diraja Kompleks Makam Poeteumeureuhom Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

Seumuleung bermakna menyuapi, karena dalam puncak upacara raja baru, sang ahli waris estafet kepemimpinan, akan disuapi nasi dan lauk khusus oleh ketua upacara adat.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk mengenang kembali proses adat yang pernah dilakukan oleh Raja Daya dalam menjamu tamu kehormatan serta raja-raja dari kerajaan lainnya. Keturunan Raja Dayalah yang saat ini menjadi pemimpin prosesi kegiatan tersebut.

Selain dari keturunan Kesultanan Aceh Darussalam, juga hadir ahli waris Kerajaan Kuala Batu, Raja Linge, Raja Singkil, Raja Samalanga, Raja Trumon, Raja Bubon, Raja Kluet, Raja Teunom, Raja Rigah, Raja Seunagan, Raja Kuala Unga, Raja Cunda, Raja Pedir, dan lainnya.

Kegiatan ini sekaligus dimaksudkan untuk mempererat jalinan silaturahmi antartokoh dan sesama masyarakat di dalam kawasan Kerajaan Daya (Lamno Daya).

Dulunya, dalam upacara resmi, Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah disuapi (di-suleung) oleh dayang-dayang kerajaan sebagai simbol peneguhan atau penabalannya sebagai raja.

Tradisi seumeulueng ini dipercaya dapat membawa keberkahan rezeki dan kesehatan untuk tahun mendatang bagi mereka yang hadir.

Selain seumuleung, dikenal pula istilah ‘peumeunap’ yang artinya menunggu raja selesai makan dengan cara disuapi. Tradisi ini disebut-sebut sudah ada sejak tahun 1480 Masehi. Peneliti tradisi budaya Kerajaan Negeri Daya Aceh, Teuku Minjar Nurlizai, menilai selama lima abad berselang tidak ada perubahan makna dari tradisi khas yang menjadi identitas kejayaan masa lalu Kerajaan Meureuhom Daya tersebut.

Seumuleung kini merupakan salah satu identitas Aceh Jaya. Tradisi yang telah berlangsung lima abad ini masih terus dilaksanakan oleh mereka yang memegang amanah.

Ini bisa menjadi modal bagi Aceh sebagai salah satu tempat di Indonesia yang masih menjaga kelestarian budayanya.

Dalam praktiknya, masyarakat ikut memadati lokasi prosesi seumuleung, tidak saja untuk menonton, tapi juga ikut memperebutkan sisa nasi suapan raja.

Rangkaian adat menyuapi dan rebutan nasi suapan ini sekaligus bermakna menyatunya raja dengan rakyatnya.

Dipercaya pula bahwa memakan nasi suapan sisa raja akan membawa berkah. Percaya atau tidak, waktulah yang akan menjawabnya.

Artikel ini telah tayang di Serambi Indonesia dengan judul “Keunikan Tradisi Seumuleung Raja Daya di Lamno, Aceh Jaya”, https://aceh.tribunnews.com/2024/06/20/keunikan-tradisi-seumeulueng-raja-daya-di-lamno-aceh-jaya?page=all.

Bagikan
Skip to content