Dosen STKIP BBG Laksanakan Kegiatan Program Dosen Masuk Sekolah

29 Agustus 2019 | BBG News

PDF version

BANDA ACEH, BBG NEWS–Sebanyak 14 dosen STKIP BBG melaksanakan kegiatan Program Dosen Masuk Sekolah (PDS) sejak 17 Juli dan akan berakhir pada 7 September 2019. Ada lima sekolah yang menjadi mitra dalam program ini yakni TK Cut Meutia, SDN 16 Banda Aceh, SMPN 4 Banda Aceh, SMAN 5 Banda Aceh, dan SMAS Inshafuddin Banda Aceh. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari lolosnya proposal hibah Program Dosen masuk Sekolah (PDS) pada Mei lalu. Kegiatan didanai oleh Kemeristekdikti. STKIP BBG merupakan satu-satunya PTS Aceh yang menang pada program skema A.

Fitriati, M.Ed.,Penanggungjawab kegiatan menyatakan bahwa tujuan kegiatan PDS dosen membawa inovasi ke sekolah dan dosen belajar dari guru bagaimana cara mengelola pembelajaran di kelas kemudian mengajarkan kepada mahasiswa di kampus. Adanya program Penugasan Dosen ke Sekolah (PDS) bisa memberi kesempatan kepada perguruan tinggi dan sekolah dalam menyelesaikan kesenjangan komunikasi antara pihak perguruan tinggi dan sekolah. Sehingga dosen dapat melihat, merasakan dan memahami permasalahan di sekolah dan guru dapat mengungkapkan secara langsung kendala yang dihadapi di sekolah. Tahun 2019 ini, STKIP BGG beruntung memperoleh kesempatan untuk melaksanakan PDS yang didanai oleh Ristek Dikti. Sejak Juli, kegiatan ini telah berjalan di semua sekolah mitra dengan mengutamakan komunikasi sebelum pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Guru berkesempatan diamati dosen begitu pula sebaliknya.

Suasana kelas di kampus dan sekolah sangatlah berbeda seperti yang diungkapkan oleh Rosdiana, salah seorang dosen. “Ada perbedaan besar antara mengajar di sekolah dan mengajar kampus, jika di kampus cenderung mengajar mahasiswa yang telah memiliki dasar bahasa Inggris, namun di sekolah semuanya harus dimulai dari awal meski pada tingkat sebelumnya sudah pernah dipelajari”ujarnya. Beliau juga mengungkapkan bahwa ia bersyukur terpilih sebagai tim PDS sehingga dapat belajar banyak hal terkait mengelola kelas dan mengenal peserta didik yang saat ini terkenal dengan sebutan anak milenial.

Berbeda kisah pula dengan Lina Amelia yang berkesempatan mengajar di TK Cut Meutia, ia mengungkapkan bahwa ini adalah pengalamannya mengajar pertama setelah menyelesaikan kuliah beberapa tahun lalu. Duduk dikelilingi anak sambil memperlihatkan media pada anak-anak yang baru satu bulan mengenal lingkungan sekolah. Ternyata mengasah goldenage itu tidak semudah teori yang ada di bangku kuliah, butuh waktu dan proses. Untuk membuat anak mau berada di sekolah tanpa didampingi orang tua lagi butuh waktu tiga minggu. Minggu ke empat mereka baru masuk kelas dan mengenal suasana kelas. Maklum, anak-anak masih awam dengan namanya kelas, media dan pembelajaran.

Ini tantangan tersendiri untuk membuat media yang sederhana dan unik untuk menarik minat anak yang sedang dalam penyesuaian diri dengan sekolah. Dan harus melakukan revisi media beberapa kali agar anak tetap merasa enjoy memainkan media namun kurikulum sekolah tetap berjalan sesuai pembagian waktu pembahasan tema. Sehingga media yang awalnya sudah dianggap sangat sederhana harus disederhanakan lagi berdasarkan masukan guru kelas. Tujuan akhirnya adalah agar metode pembelajaran anak “belajar seraya bermain dan bermain seraya belajar” terlaksana sebagaimana mestinya.

Kegiatan kunjungan ke sekolah pada program PDS ini hampir berakhir. Secara menyeluruh kegiatan ini membantu dosen dan guru menjalin komunikasi.

Bangun Negeri, Bijakkan Bangsa