Catatan Kelam

28 April 2018 | BBG News

PDF version

Cerpen: Ainal Mardhiah

 

Aku selalu bermimpi bahwa aku kembali kecil dan menikmati semuanya bersama ayah dan ibu. Namun ketika terbangun dan membuka mata itu semua hanya kenangan dan mimpi buruk yang tidak bisa kujelaskan. Mulut ini hanya bisa bungkam. Tak ada kata yang bisa kuceritakan atau kuucapkan kepada siapapun dan sangat sulit rasanya apa yang telah terjadi pada keluarga kami dua puluh tahun silam. Mengingat kejadian itu rasanya aku tak ingin hidup dan melihat dunia ini lagi. Tapi bagaimana bisa karena garis kehidupan itu telah diatur oleh sang pencipta karena Dialah yang berhak dan berkuasa atas hidup hambaNya ini.

Kini aku telah berusia 20 tahun dan menghabiskan hidup  itu bersama nenek, ibu, kakak, dan adik tercinta tanpa sosok seorang ayah yang telah pergi meninggalkan kami demi wanita lain yang membuatnya bahagia. Ya sudahlah, aku begitu muak dan sangat benci jika mengingat hal ini rasa aku seperti jadi anak durhaka dengan ayahku. Jujur saja aku sudah tak ingin mengingat hal ini yang membuat ibuku begitu sakit dan keluarga kami yang begitu berantakan. Entahlah rasanya aku ingin cepat menjadi yang lebih dewasa lagi untuk bisa memberikan kebahagian kecil bagi keluargaku. Juga, ibu yang begitu aku sayangi dan cintai. Ibu yang telah berjuang demi kehidupanku menjadi lebih baik.

Angin, meniup pelan rambutku yang mulai terlihat jarang dikepala. Malam tiba, aku masih setia duduk di lantai atas kosanku, menghadap langit yang berawan kelam. Mengingat wajah ibuku yang begitu letih karena seharian bekerja demi masa depanku. Mataku berkedip pelan.  Tak sanggup aku menahan air diantara kelopak mata hingga terjatuh dan bergerai di kedua pipi. Wanita yang tidak pernah mengeluh. Wanita yang tak pernah menjerit meski ia ingin menangis namun demi anaknya ia tetap berusaha agar anaknya kelak tak pernah merasakan apa yang telah ia rasakan sewaktu berumah tangga. Kata- kata itu yang  selalu  tergiang di kedua teligaku dan terus kuingat dalam memoriku. Aku selalu  berharap dan berdoa pada-Nya yang maha berkuasa atas hidup ini untuk selalu memberikan ibuku kesehatan dan melindunginya dari segala kejahatan dan selalu diberi kemulian hatinya untuk selalu tabah menghadapi semua jalan hidup ini yang tak pernah berhenti ujian yang kami hadapi. Semoga selalu diberi kakayaan dan iklasan hatinya.

 

Suatu kehormatan bagiku untuk mengatasi hidup sendiri di rantau orang. Ahh rasanya benar-benar tidak asyik jika harus mengadu dan mengeluh tentang cerita pahit ini yang membuat diri terus terpuruk kedalam jurang hitam.  Ya bisa dibilang seperti itu, tapi itulah kenyataan pahit yang telah kami alami bersama keluarga kecil kami. Mungkin sekarang kehidupan kami sedikit lebih baik dari yang sebelumnya, walaupun tanpa kehadiran sosok ayah ditengah keluarga kecil ini. Terkadang aku juga ingin berontak kepada Tuhan. Rasanya sungguh tak adil bagiku  jika Dia memberikan ujian yang berat kepada kami. Aku juga iri kepada teman-temanku yang selalu bisa merasakan hangatnya kasih sayang ayah. Ahh jika aku terus memikirkan ini rasanya hatiku terus tergores dan semakin pilu. Tapi ya sudahlah lupakan saja. Karena walau bagaimana pun Allah itu tidak pernah memberikan ujian diatas kemampuan hamba-Nya.

Mengingat cerita pahit dulu,  rasanya aku ingin cepat menyelesaikan studi agar aku segera memberikan hadiah pelangi bagi ibu agar dia tidak  berjalan di bawah hujan. Itulah yang selalu terpikir olehku agar ibu berhenti bekerja dan menikmati hari tuanya dengan menghabiskan waktunya bersama kami. Betapa aku ingin berlari dan memeluknya tetapi karena jarak aku hanya bisa melihatnya lewat doa dan mendengarkan suaranya lewat telepon.

Mungkin kisah kehidupanku sangat berbeda dengan teman-temanku. Mereka masih merasakan kasih sayang kedua orangtuanya. Mereka bisa bermanja, hidup enak tak seperti aku yang selalu kekurangan dalam segala hal tapi itulah kehidupanku. Aku harus bangga untuk menjalaninya. Aku harus selalu bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan.  Mungkin aku harus lebih tabah lagi dalam menjalani ini semua. Aku yakin Allah memberikan ujian ini karena aku  mampu melewatinya. Aku  percaya apa yang Dia berikan merupakan yang terbaik. Tapi semua ini sudah berlalu dan berubah. Seperti hidupku yang terus tumbuh dewasa baik sikap umur maupun sikap sehingga aku harus bijak menyikapi semua masalah.

 

Ainal Mardhiah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah STKIP BBG

 

 

Bangun Negeri, Bijakkan Bangsa