Bariji, Mahasiswi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar UBBG
Kabupaten Aceh Jaya merupakan wilayah di Provinsi Aceh yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal. Ibu kotanya adalah Calang, Kecamatan Krueng Sabee. Wilayah pesisir Aceh Jaya memiliki pantai, teluk, hutan, sungai, dan perbukitan. Di sekitar Calang terdapat Teluk Calang, Pantai Lhok Calang, Pantai Lhok Kubu, dan Pulau Eunggang. Tempat wisata lainnya meliputi Puncak Geurutee, Pulau Keuluang, Pantai Babah Ie, Pantai Pasie Saka, Pantai Nissero, Pantai Lueng Gayo, Ceuraceu Eumbon, Makam Po Teumeureuhom, ekowisata mangrove, serta kawasan konservasi. Kekayaan alam Aceh Jaya menjadi sumber penghasilan masyarakat. Mata pencaharian masyarakat meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, perdagangan, dan usaha kecil. Hasil yang dimanfaatkan antara lain padi, sayuran, buah-buahan, kelapa, karet, kelapa sawit, ikan, dan hasil laut lainnya.
Hutan dan kawasan perbukitan juga memiliki keanekaragaman tumbuhan dan satwa, termasuk gajah Sumatra. Kawasan pesisir memiliki mangrove, terumbu karang, dan habitat penyu. Salah satu bentuk pelestarian alam adalah Konservasi Penyu Aron Meubanja di Gampong Keude Panga. Kawasan ini menjadi tempat penyu bertelur dan pelepasan tukik ke habitat aslinya. Aceh Jaya juga memiliki Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet di Desa Ie Jeureungeh, Kecamatan Sampoiniet. Kawasan ini menjadi pusat konservasi gajah yang Bernama Isabella, Aziz dan Johanna sekaligus tempat edukasi mengenai kehidupan gajah serta pentingnya menjaga habitatnya. Kehidupan masyarakat Aceh Jaya tidak terlepas dari adat dan kebiasaan masyarakat Aceh. Kenduri Blang merupakan tradisi yang berkaitan dengan pertanian sebagai bentuk doa dan harapan agar hasil panen memperoleh keberkahan. Seumeuleung berkaitan dengan sejarah Kerajaan Daya dan Raja Nanggroe Daya.
Nilai kebersamaan juga terlihat melalui musyawarah dan gotong royong, yang mengajarkan masyarakat untuk saling membantu, menghargai, dan menjaga hubungan antarwarga. Aceh Jaya juga memiliki kekayaan kuliner. Salah satu makanan yang dikenal di kawasan Lamno adalah Bu Sie Itek, yaitu masakan berbahan dasar itik dengan bumbu rempah khas Aceh. Dalam kehidupan keagamaan, masjid menjadi tempat ibadah dan kegiatan masyarakat. Salah satu masjid yang berada di Calang adalah Masjid Agung Baitul Izzah Kabupaten Aceh Jaya, yang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Tanaman di Aceh Jaya juga memiliki manfaat ekonomi dan budaya. Seperti pandan dapat digunakan untuk membuat tikar, tas, dan tempat makanan. Eceng gondok, termasuk yang dimanfaatkan masyarakat Gampong Tanoh Manyang, Kecamatan Teunom, dapat diolah menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomi. Daun nilam merupakan salah satu tanaman bernilai ekonomi di Aceh Jaya. Daunnya diolah melalui penyulingan untuk menghasilkan minyak nilam yang digunakan sebagai bahan parfum, kosmetik, dan pewangi. Pemanfaatan tanaman tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengolah sumber daya alam menjadi barang yang berguna. Keunikan Aceh Jaya juga terlihat dari masyarakat keturunan Portugis di kawasan Lamno yang dikenal dengan sebutan “Si Mata Biru”.
Keberadaan mereka menjadi bagian dari sejarah pertemuan budaya di Aceh Jaya. Peninggalan Kerajaan Daya, Makam Po Teumeureuhom, tradisi Seumeuleung, serta berbagai adat masyarakat semakin memperkaya identitas daerah. Aceh Jaya memiliki kekayaan alam, adat, dan budaya yang saling berkaitan. Laut, hutan, dan tanaman menjadi dalang sumber kehidupann masyarakat, sedangkan adat dan tradisi memperkuat identitas masyarajat. Kekayaan tersebut perlu dijaga agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
#ubbgmaju
#diktisaintekberdampak
#kampusberdampak





















