BANDA ACEH, BBG NEWS–Pendidikan global menghadapi tantangan serius berupa penurunan kemampuan membaca, meningkatnya kecenderungan membaca secara terburu-buru tanpa pemahaman mendalam, serta tuntutan penguasaan kompetensi digital dan pemecahan masalah. Dalam konteks Indonesia, kelemahan praktik pembelajaran terlihat pada dominasi pendekatan yang berpusat pada guru, rendahnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi, keterbatasan penguasaan pedagogis, dan belum optimalnya dampak kebijakan terhadap kualitas pembelajaran. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh Marthunis, S.T., D.E.A. pada kegiatan International Conference on Global Education and Innovation (IC-GERI) 2026 yang berlangsung di Plenary Hall UBBG, 14-15 Oktober 2026. Marthunis, S.T., D.E.A. menjadi keynote speaker kehormatan pada kegiatan tersebut.
Marthunis mengangkat topik tentang Memberdayakan Pendidikan Masa Depan: Memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI), Keberlanjutan, dan Inklusivitas Digital. Beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya Aceh, tidak cukup dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan semata, tetapi harus disertai pembenahan praktik pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pengembangan literasi digital, dan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Data yang ditampilkan menyoroti persoalan rendahnya capaian literasi dan numerasi, kesenjangan pendidikan antardaerah, dominasi pembelajaran yang berpusat pada guru, serta risiko distraksi digital dan ketergantungan berlebihan pada AI. Oleh karena itu, pendidikan masa depan perlu mengintegrasikan teknologi secara etis dan bertanggung jawab, mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemandirian belajar, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan perguruan tinggi. Melalui pelatihan guru yang berkelanjutan, pembelajaran berdiferensiasi, penggunaan teknologi berbasis bukti, dan kebijakan afirmatif bagi daerah yang tertinggal, diharapkan tercipta sistem pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, merata, dan siap menghadapi tantangan global.
“Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa distraksi digital, ketergantungan pada jawaban instan, serta menurunnya kemampuan berpikir kritis dan reflektif apabila digunakan secara tidak tepat. AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu yang memperkuat peran guru dan kemampuan siswa, bukan menggantikan proses berpikir mandiri. Karena itu, peserta didik perlu dibekali literasi digital dan AI, kemampuan mengevaluasi informasi, memverifikasi sumber, memecahkan masalah, serta mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam belajar,”ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa strategi peningkatan pendidikan masa depan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan perguruan tinggi melalui kebijakan penggunaan AI yang etis, pelatihan guru berkelanjutan, pengembangan pembelajaran berdiferensiasi, serta pemanfaatan teknologi pendidikan yang terbukti efektif. Pemerintah juga perlu memberikan dukungan afirmatif kepada daerah yang memiliki capaian pendidikan rendah agar kesenjangan belajar dapat dikurangi. Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia, didukung inovasi teknologi dan kebijakan berbasis bukti, sistem pendidikan di Indonesia, khususnya Aceh, diharapkan menjadi lebih berkualitas, inklusif, merata, dan mampu menghasilkan generasi yang kritis, kreatif, mandiri, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Sementara itu, Rektor UBBG Prof. Dr. Hj. Lili Kasmini, S.Si.,M.Si. menyampaikan terima kasih kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh Marthunis, S.T., D.E.A. yang telah memberikan banyak pengetahuan, wawasan, motivasi, dan inspirasi pada konferensi internasional tersebut. Semoga ke depannya, mutu Pendidikan Aceh dan terus ditingkatkan dan memberi dampak lebih luas bagi inovasi dan kemajuan pengetahuan baik Tingkat nasional maupun internasional.
Presentasi International Conference on Global Education and Innovation (IC-GERI) 2026 menyoroti tantangan pendidikan global, terutama rendahnya capaian literasi membaca, numerasi, dan sains, serta kesenjangan hasil belajar antara wilayah dan kelompok peserta didik. Kondisi pendidikan juga dipengaruhi oleh praktik pembelajaran yang masih berpusat pada guru, kurangnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi, dan belum optimalnya kompetensi pedagogis. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan perlu diarahkan pada pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
#ubbgmaju
#diktisaintekberdampak
#kampusberdampak





















