Bakti Sosial Milad ke-5 UBBG, PBSA Adakan PKM Berbasis Branding UMKM dan Pelestarian Filosofi Aceh

2 Mei 2026 | BBG News

BANDA ACEH, BBG NEWS–Dalam rangka Bakti Sosial Milad ke-5, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) Universitas Bina Bangsa Getsempena melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Gampong Neuheun Aceh Besar, 25–26 April 2026.

Kegiatan diikuti oleh puluhan ibu-ibu dan pemuda setempat. Program ini berfokus pada pendampingan branding produk UMKM kerajinan tradisional berbasis filosofi Aceh, khususnya pengembangan suvenir untuk kebutuhan pernikahan dan berbagai acara lainnya, serta penguatan strategi pemasaran digital.

Produk yang dikembangkan meliputi kerajinan berbahan kain songket Aceh, gantungan kunci berbentuk pintu khas Aceh, kaligrafi, bros, serta dompet kecil. Selain itu, terdapat pula potensi lokal lainnya, seperti pemanfaatan batok kelapa menjadi asbak dan centong yang diproduksi di wilayah Blok B Kompleks Tiongkok, serta kawasan Kompleks PP dan PUB yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pengembangan UMKM.

Dalam kegiatan tersebut, tim dosen dan mahasiswa PBSA memberikan pemahaman bahwa kerajinan tradisional Aceh tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai budaya yang tinggi. Setiap motif dan bentuk kerajinan mengandung filosofi yang dapat menjadi daya tarik tersendiri apabila dikemas melalui narasi storytelling yang tepat.

Ketua PKM, Imelda Hutabarat, menyampaikan bahwa program ini dirancang secara berkelanjutan hingga masyarakat mampu mandiri.

“Kegiatan ini akan berjalan sampai ibu-ibu dan pemuda bisa mandiri, mulai dari proses produksi hingga pemasaran melalui marketplace seperti TikTok dan Shopee,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Gampong Neuheun akan dijadikan sebagai desa binaan PBSA dalam rangka pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.

Sebagai langkah konkret, salah satu produk unggulan yang dikembangkan adalah bros khas Aceh yang dipadukan dengan kartu narasi Hadih Maja. Salah satu filosofi yang diangkat adalah “Meuyo hana rhom di dho, hanjeut tajak u blang. Meuyo hana sabar di dalam, hanjeut ta atoe rumoh tangga.” yang menekankan bahwa kesabaran dan kerja keras merupakan fondasi utama dalam kehidupan keluarga dan sosial masyarakat Aceh.

Narasi tersebut disematkan agar setiap produk tidak hanya menjadi benda pakai, tetapi juga membawa pesan moral dan identitas budaya Aceh. Kartu narasi ini bahkan dapat disesuaikan dengan berbagai kegiatan formal masyarakat, seperti pernikahan, ulang tahun, dan khitanan.

Selain penguatan konsep branding, peserta juga dibekali keterampilan praktis dalam pemasaran digital, mulai dari pembuatan produk, penulisan deskripsi yang menarik, pembuatan label, hingga pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Para ibu-ibu dan pemuda aktif mengikuti setiap sesi dan langsung mempraktikkan penyusunan label serta perencanaan konten promosi digital.

Di sela kegiatan, mahasiswa juga melakukan wawancara dengan Kepala Desa Neuheun, Saiful, untuk menggali lebih dalam dampak program terhadap masyarakat.

Menurut Saiful, program kreativitas mahasiswa memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi inovasi dan ilmu pengetahuan mahasiswa sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa.

Ia juga menegaskan bahwa desa sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan kampus, terutama dalam upaya pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat.

“Fokus kami tidak hanya pada pelestarian budaya, tetapi juga pada bagaimana budaya tersebut memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Saiful turut menekankan pentingnya penguatan peran bahasa Aceh melalui program pembelajaran di desa, serta digitalisasi budaya dalam bentuk dokumentasi cerita rakyat, hikayat, pantun, hingga pengembangan media digital seperti video dan podcast.

Dalam pandangannya, UMKM berbasis budaya Aceh memiliki potensi besar karena tidak hanya menjual produk, tetapi juga makna. Nilai-nilai seperti religiusitas, kebersamaan, dan kearifan lokal menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan daya saing produk. Namun demikian, ia juga menyoroti beberapa tantangan, seperti kurangnya regenerasi pengrajin, keterbatasan akses pasar, serta belum optimalnya pemahaman terhadap filosofi produk.

Kegiatan ini memberikan dampak positif yang signifikan, khususnya bagi masyarakat Komplek Tiongkok. Melalui workshop dan pendampingan, pemuda karang taruna memperoleh keterampilan dalam branding, pemasaran digital, serta pengelolaan usaha. Dampaknya terlihat pada meningkatnya nilai jual produk, bertambahnya pendapatan masyarakat, penguatan identitas budaya, serta meningkatnya produktivitas pemuda.

Selain itu, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan pengrajin, pemuda, pemerintah desa, dan akademisi, serta membuka peluang usaha baru yang dapat membantu mengurangi pengangguran di lingkungan masyarakat.

Sebagai bentuk apresiasi, mahasiswa PBSA juga menyerahkan bingkisan berupa dua unit kursi kepada pihak desa sebagai kenang-kenangan atas kerja sama yang telah terjalin. Melalui kegiatan ini, diharapkan tidak hanya terjadi peningkatan ekonomi keluarga, tetapi juga keberlanjutan pelestarian budaya Aceh agar tetap eksis di era digital tanpa kehilangan jati diri.

#ubbgbermutu
#ubbgmaju
#diktisaintekberdampak
#kampusberdampak
partner-1
partner-2
partner-3
partner-4
partner-5
partner-6
partner-7
partner-8
partner-9
partner-10
partner-11
partner-12
partner-13
partner-14
partner-15
Layanan Pengaduan lapor.bbg.ac.id
Skip to content